Jumat, 26 Oktober 2018

Anggota TNI di Papua Tewas Dibacok Warga Saat Pantau Wilayah


Pada Hari Senin (22/10) sekitar pukul 19.45 WIT bertempat di Kp. Waroki Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua, telah terjadi tindakan pengeroyokan oleh sekelompok masyarakat terhadap seorang anggota TNI dan mengakibatkan meninggal dunia dengan luka tebas di leher.
Kolonel Inf Muhammad Aidi, kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII/Cenderawasih, mengungkapkan bahwa hingga saat ini kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan.

"Belum diketahui motifnya kenapa sampai terjadi pengeroyokan tersebut," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima AKURAT.CO, Jakarta, Kamis (25/10).

Kolonel inf Aidi menjelaskan, berdasarkan data dan laporan yang dikumpulkannya, peristiwa tersebut berawal sekitar pukul 17.30 Wit, ketika Anggota Kodim 1705/Paniai atas nama Sertu Surya Ganda Putra Silalahi hendak melaksanakan tugas pemantauan wilayah menggunakan sepeda motor dari asrama Kodim 1705/Paniai ke Kp. Waroki Distrik Nabire Barat.

"Saat melintas di jalan menuju Kp. Waroki Distrik Nabire Barat, sekitar 50 meter dari jembatan terdapat sekelompok masyarakat/pemuda membawa senjata tajam berupa golok atau parang. Mereka berjumlah sekitar 6-7 orang sedang nongkrong, dan dalam pengaruh miras. Kemudian mencegat Sertu Surya, sehingga terjadi percekcokan dan berlanjut pada tindakan pengeroyokan dan pembacokan menggunakan parang," ujarnya.

Pada saat pengeroyokan dan pembacokan, lanjut Aidi, korban masih berada di atas sepeda motornya. Menurut Aidi, karena terdesak dan juga mengalami luka bacok di leher, korban membela diri dengan mengeluarkan tembakan peringatan.

"Namun karena korban sendiri kritis dan ditambah situasi gelap, tembakan peringatan tersebut mengenai bagian dada dari salah seorang pembacok," ungkapnya.

Kolonel inf Aidi menyebutkan, peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia, yaitu seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sertu Surya Ganda Putra dan seorang masyarakat pelaku pengeroyokan atas nama Daud Oyom. Aidi pun mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut. Hal itu, menurut Aidi, disebabkan kesadaran hukum yang masih rendah.

"Kebiasaan masyarakat membawa senjata tajam ke mana-mana sehingga mudah sekali tersulut emosi untuk melakukan tindakan anarkis, main hakim sendiri dengan mengabaikan hukum positif. Pihak kami bersama kepolisian masih berusaha mencari dan mengumpulkan keterangan terkait kasus ini. Kalau ada permasalahan mestinya tidak harus diselesaikan secara anarkis, mari kita menghormati hukum positif yang berlaku," katanya.

Kapendam mengimbau, seluruh komponen masyarakat agar meninggalkan kebiasaan membawa senjata tajam kemana-mana. Karena kebiasaan tersebut tidak hanya mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat, namun juga bertentangan dengan larangan-larangan yang dikeluarkan pihak kepolisian.

"Tetapi tentunya tidak hanya cukup dengan larangan dan pengawasan dari pihak keamanan. Namun dituntut kesadaran dari seluruh komponen masyarakat untuk taat hukum agar tercipta kondisi masyarakat yang aman, damai dan sejahtera. Selain itu, kebiasaan mengkomsumsi miras juga merupakan penyakit sosial masyarakat sebagai sumber terjadinya berbagai tindakan kriminal dan sangat meresahkan masyarakat," ungkapnya.



Sumber : Akurat.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemilik Cafe Komandan Akan Diperiksa Polisi Karena Adakan Nobar Tanpa Pemberitahuan

Kapolres Metro Jakarta Selatan menunjukkan barang bukti saat memberikan keterangan pers di Polres Metrp Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (2...