AKURAT.CO/Dharma Wijayanto
Herson selaku kepala bandara bagian Bali-Nusa Tenggara mengungkapkan bahwa tidak lama setelah menginformasikan kendala teknis yang dihadapi, pilot kembali menginformasikan bahwa pesawat telah terbang normal, ungkap Herson dalam wawancara dengan Reuters.
"Kapten yakin bahwa pesawat dapat terbang dari Denpasar ke Jakarta," kata Herson dilansir dari laman Reuters, Jumat (2/11).
Selain itu, ada juga pesawat lain yang diminta menunda pendaratan dan terbang mengitari bandara setelah Lion Air JT610 lepas landas. Pilot dari pesawat tersebut mengaku mendengarkan komunikasi antara ATC (Air Traffic Controller) dengan pilot JT610.
"Karena panggilan Pan-Pan, kami diminta menunda pendaratan dan mengelilingi bandara. Pesawat Lion Air diminta untuk kembali ke bandara Bali 5 menit setelah lepas landas, namun kemudian pilot Lion Air mengatakan bahwa masalah teknis itu telah diatasi dan mereka akan melanjutkan penerbangan ke Jakarta," ujar pilot pesawat lain tersebut yang tidak mau diungkapkan namanya.
Pan-Pan merupakan sinyal yang digunakan untuk menggambarkan situasi mendesak. Pan-Pan satu tingkat di bawah 'Mayday' yang merupakan sinyal untuk keadaan darurat.
Pesawat Lion Air JT610 akhirnya mendarat di Jakarta pada pukul 10.55 malam sebelum akhirnya kembali mengambil penerbangan selanjutnya pukul 6.20 pagi ke Pangkalpinang. Lion Air JT610 jatuh 13 menit setelah lepas landas, tepat sebelum pesawat jatuh pilot meminta untuk kembali ke bandara. Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 menewaskan total 189 penumpang di dalamnya.
Kotak Hitam FDR Lion Air JT 610 Ditemukan. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto
Menurut catatan dari Flight Radar 24, Lion Air JT610 melakukan penerbangan yang aneh di rute Denpasar-Jakarta di mana kecepatan dan ketinggian pesawat selalu berubah, termasuk penuruan 875 kaki dalam waktu lebih dari 27 detik, sebelum akhirnya kembali stabil.
Pilot pesawat juga menjaga ketinggian di angka 28.000 kaki, lebih rendah dari penerbangan lainnya di rute yang sama di mana ketinggiannya 36.000 kaki. Wakil Kepala Kepolisian Transportasi Nasional Haryo Satmiko mengungkapkan ada masalah teknis pada penerbangan, termasuk pembacaan kecepatan udara yang tidak tepat.
Kejadian ini merupakan kecelakaan pesawat terbesar kedua sejak 1997 dan memperburuk catatan keamanan terbang di Indonesia. Selain itu, kecelakaan ini juga membuat pesawat tipe Boeing 737 MAX menjadi sorotan.
Boeing 737 MAX merupakan pesawat yang baru dirilis tahun lalu dan tidak memiliki catatan kecelakaan sebelum tragedi Lion Air JT610 terjadi. Boeing 737 MAX adalah versi upgrade dari Boeing 737 dan menjadi pesawat yang paling banyak diproduksi untuk pesawat komersial.
Sumber : Akurat.co


Tidak ada komentar:
Posting Komentar